‘Kecemerlangan Sarri Terlambat Datang’

Bagaimana sepak terjang Maurizio Sarri bersama Juventus? Apakah mantan pelatih Chelsea itu sudah memberikan banyak perubahan pada tim?

Ternyata di mata Marcello Lippi, keberadaan Sarri bagi Juventus memiliki ciri tersendiri. Lippi merupakan pelatih kawakan yang pernah menangani sejumlah klub top Italia. Lippi melayangkan kritik terkait sikap pelatih Juventus itu belakangan ini.

Lippi mengatakan Sarri harus bisa mendengar pendapat dari para pemain Juventus, terutama para pemain bintang. Ia mengatakan bila Sarri tak melakukan hal itu maka susah untuk mendapatkan skuad terbaik.

“Saya pikir ketika Anda berada di tim besar, pendapat para pemain hebat penting. Seorang jenderal yang memaksakan dirinya secara ironis tidak pernah mendapatkan yang terbaik dari tentaranya,” beber Lippi.

Lebih lanjut ia mengatakan kecemerlangan pelatih tersebut seperti datang terlambat. Terkait pertandingan yang akan dilakoni menghadapi Bologna di pentas Serie A Italia, Lippi mengingatkan Sarri untuk tak sampai anggap enteng.

“Pagi ini, saya membaca beberapa pernyataan Sarri, mungkin kecemerlangannya lambat datang. Juventus pasti harus kembali mencetak gol dan menang. Itu tidak mudah, Bologna adalah tim yang sangat ambisius dan sangat menuntut. Ini akan sangat sulit,” sambungnya.

Sementara itu Sarri angkat bicara terkait kegagalan mereka di pentas Coppa Italia. Pertandingan kontra Bologna bisa menjadi titik balik untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain.

“Kehilangan trofi selalu menyakitkan, itulah situasinya dan kami tidak boleh menyalahkan diri sendiri,” beber Sarri.

Lebih lanjut ia mengatakan para pemain harus bisa bangkit setelah gagal meraih trofi Coppa Italia. Ia meminta para pemain untuk tidak tenggelam dalam kesedihan karena kegagalan itu.

“Saya meminta para pemain untuk tidak membiarkan diri mereka teralihkan oleh apa pun atau memikirkan apa yang mungkin terjadi, karena apa yang terjadi sudah terjadi,” lanjutnya.

Sementara itu Sarri mengatakan bahwa performa timnya saat ini dipengaruhi oleh kekosongan pertandingan selama beberapa bulan karena wabah Corona atau Covid-19.

“Pasti akan sulit setelah berhenti selama 70 hari, kehilangan ketajaman, kebugaran, dan akselerasi. Tidak ada dalam situasi ini yang normal.”

Lebih lanjut ia berharap bahwa perlahan-lahan timnya bisa mendapatkan kembali ketajaman seiring bergulirnya kembali kompetisi. Situasi ini menurutnya terjadi hampir di semua tim.

“Kekurangan gol bisa menjadi masalah ketajaman secara umum, karena kami menguasai bola untuk waktu yang lama dan mengendalikan permainan, tetapi tidak bisa menyelesaikan peluang kami. Melihat kualitas dalam skuad, saya tidak bisa membayangkan bakal berjuang di depan gawang untuk waktu yang lama,” pungkasnya.

Sarri Sebut Dybala dan Ronaldo Sebenarnya Tidak Cocok Main Bareng

Pelatih Juventus, Maurizio Sarri buka suara terkait keberadaan Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala di tim tersebut. Mantan juru taktik Chelsea itu mengatakan kedua pemain itu sebenarnya tidak cocok untuk dimainkan bersama.

Ia mengatakan bila menurunkan dua pemain itu sekaligus maka akan meninggalkan celah dalam tim tersebut. Juventus dinilai akan kehilangan pemain di kotak penalti lawan, mengingat kedua pemain tersebut kerap bergerak dari tengah atau menyusur sisi lapangan.

Meski begitu Sarri mengatakan dirinya berusaha untuk mendapatkan formula yang tepat untuk memainkan kedua pemain itu sekaligus. Ia mengakui kedua pemain itu memiliki potensi masing-masing. Kontribusi mereka pada tim jelas tak diragukan lagi.

“Dybala adalah pemain yang fenomenal. Satu-satunya kesulitan kami adalah tidak mudah membuat dengan tipe yang berbeda seperti Dybala dan Cristiano Ronaldo bermain bersama. Namun, mereka selalu dapat membuat perbedaan,” beber Sarri.

Ia mengakui tidak mudah untuk memainkan mereka secara bersamaan. Namun demikian dengan memainkan mereka secara serentak, Juventus jadi memiliki dua pemain berkualitas. Hal ini membuat lawan semakin mendapat tekanan, namun rekan-rekan setim ditutun untuk bisa beraptasi dengan kehadiran dua pemain itu di satu lapangan.

“Tidaklah mudah untuk memainkan keduanya bersamaan dalam beberapa taktik tertentu. Kendati demikian, mereka adalah dua pemain yang berkualitas yang kami miliki. Anggota tim lain tentu harus menyesuaikan diri, baik ketika bertahan maupun menyerang,” sambungnya.

Pelatih asal Italia itu mengatakan potensi kekurangan dari kehadiran dua pemain itu jelas ada. Namun ia mengakui bahwa hal tersebut merupakan tantangan tersendiri yang menuntutnya untuk bisa mendapatkan solusi terbaik.

“Sebenarnya ada risiko bahwa area kotak penalti lawan bakal sedikit lowong oleh pemain kita, tapi ini masalah yang menarik untuk diselesaikan,” pungkasnya.

Kompetisi Serie A Italia akan bergulir lagi setelah sempat terhenti karena wabah Corona atau Covid-19. Namun demikian ada kekhawatiran terkait keselamatan para pemain terutama dari ancaman cedera.

Giacomo Zanon, Kepala Unit Traumatologi Olahraga Policlinico di Pavia, mengatakan dalam situasi seperti ini para pemain akan mudah mengalami cedera karena selama beberapa bulan terakhir aktivitas mereka di lapangan sepak bola terhenti.

“Ada beberapa masalah yang harus diperhatikan. Pertama soal penangguhan latihan. Dua bulan di rumah berbanding 20 hari beristirahat di kala aktif bermain, secara tradisonal itu sama saja dengan liburan musim panas,” bebernya.