Serie A Kembali Bergulir 13 Juni, Ada Protokol Ketat yang Harus Ditaati

Kabar gembira bagi para penggemar Serie A. kompetisi sepak bola tertinggi di Italia itu akan kembali bergulir setelah sempat ditangguhkan karena wabah Corona atau Covid-19. Pertandingan demi pertandingan akan kembali digelar sejak 13 Juni 2020.

Tidak hanya itu untuk mendukung rencana tersebut, otoritas setempat juga mulai melonggarkan kebijakan terkait jaga jarak sosial dan jaga jarak fisik. Mulai pekan depan semua tim akan diizinkan untuk menggelar latihan dengan kontak fisik.

Meski begitu pemerintah Italia akan memberlakukan protokol ketat. Bahkan salah satu butir ketentuan bisa membut tim-tim peserta keder. Pasalnya dalam protokol tersebut bila sampai ada salah satu pemain atau staf yang positif Corona maka seluruh tim wajib menjalani karantina selama 15 hari. Tidak hanya karantina bagi seluruh tim, kompetisi juga akan dihentikan sepenuhnya.

“Tanpa diragukan lagi, kalau seseorang dinyatakan positif COVID-19 di dalam klub, semuanya berhenti. Karantina menjadi otomatis dan keseluruhan musim berhenti,” beber Wakil Menteri Kesehatan Italia Sandra Zampa.

Protokol ini tidak sedikit mendapat kecaman. Salah satu klub yang berkeberatan dengan aturan tersebut adalah Lazio. Klub itu menilai protokol ini sebagai sesuatu yang konyol.

Sebagaimana dikatakan kepala medis Lazio, Ivo Pulcini, protokol tersebut menggambarkan bahwa komite saintifik Italia tidak mendengar masukan dari pihak klub terutama dari staf medis.

“Dalam pandangan saya, menempatkan seluruh tim dan staf di tempat karantina jika satu orang dinyatakan positif itu benar-benar konyol. Komite saintifik tidak mau benar-benar mendengarkan pandangan dari pihak yang menangani medis di dunia sepakbola, yang sudah tahu betul kondisi di lapangan dan tidak cuma duduk-duduk saja,” beber Pulcini.

Lebih lanjut, Pulcini mengatakan mengkarantina seluruh tim adalah berlebihan. Bila sampai ada pemain atau staf yang positif Corona maka, cukuplah oknum bersangkutan yang dikarantina. Seluruh tim tidak harus dikarantina.

“Dalam kasus ini, biarkan kami yang mengambil tanggung jawab buat memutuskan agar anggota tim tak perlu seluruhnya dikarantina. Saya tidak masalah dengan hal tersebut,” sambungnya.

Selain itu Pulcini mengatakan pemerintah Italia mestinya belajar dari protokol yang diterapkan pemerintah Jerman di kompetisi Bundesliga yang akan kembali bergulir pada akhir pekan ini. Kebijakan di Bundesliga bertolak belakang dengan Italia yang mana bila ada pemain atau staf yang terjangkit Corona maka hanya yang bersangkutan yang wajib dikarantina atau diisolasi.

 

Juventus Tidak Ingin Dapat Scudetto Cuma-cuma

Saat ini muncuk sejumlah spekulasi terkait nasib Serie A Italia musim ini. Di satu sisi muncul desakan agar kompetisi tersebut disudahi saja. Di sisi lain, ada harapan agar kompetisi bisa dilanjutkan lagi selepas wabah Corona atau Covid-19 berakhir.

Bila sampai kompetisi dihentikan, akan muncul kerumitan terkait penentuan gelar juara, tim-tim promosi dan degradasi. Selain itu akan muncul perdebatan terkait tim-tim yang akan tampil di pentas Eropa musim depan.

Kubu Juventus berharap agar kompetisi musim ini berlanjut. Sebagaimana dikatakan sang presiden, Andrea Agnelli, pihaknya tidak akan mendapat gelar Scudetto secara cuma-cuma. Ia justru berharap kompetisi bisa berlanjut sehingga penentuan gelar juara bisa dilakukan secara adil.

“Anda semua tahu bahwa saya tidak terlalu banyak berpendapat di media dan lebih suka diam. Itu mungkin memicu interpretasi yang salah tentang bagaimana keinginan Juventus sebenarnya,” beber Agneli.

Lebih lanjut ia mengatakan pihaknya tidak ingin agar kompetisi musim ini berakhir lebih cepat. Ia justru mendesak agar Serie A bisa berlanjut lagi.

“Saya menegaskan kembali bahwa Juventus memiliki niat kuat untuk mengakhiri musim 2019-20.”

Ia mengatakan saat ini ada harapan untuk menggulirkan kembali kompetisi. Sejumlah tim Serie A sudah mulai berlatih pada 18 Mei dan kompetisi tersebut diprediksi bisa digulirkan lagi pada Juni mendatang.

“Dengan memulai latihan pada 18 Mei dan pertandingan pada Juni, akan ada cara dan waktu untuk mengakhiri musim ini. Kami sepenuhnya menghormati himbauan yang diberikan oleh UEFA dan ECA,” bebernya.

Saat ini Juventus berstatus pemuncak klasemen sementara. Namun demikian tim tersebut memiliki keunggulan yang tipis dari para pesaingnya.

Situasi ini berbeda dengan Liga Primer Inggris yang mana Liverpool begitu kokoh di puncak klasemen. Tim berjuluk The Reds itu bahkan hampir pasti keluar sebagai juara musim ini.

Sekalipun pada akhirnya kompetisi dihentikan, Liverpool tetap pantas untuk dianugerahi trofi juara. Hal ini sebagaimana dikatakan walikota Liverpool, Joe Anderson.

“Saya rasa keputusan terbaik adalah mengakhiri musim ini. Bukan cuma soal Liverpool – mereka jelas sudah jadi juara – mereka pantas mendapatkannya, mereka harus dinobatkan sebagai juara,” beber Anderson.

Lebih lanjut ia mengatakan saat ini prioritas utama adalah kesehatan dan keselamatan semua orang. Menurutnya urusan sepak bola itu berada di urutan kedua.

“Yang terpenting dari semua ini adalah kesehatan dan keselamatan orang-orang. Saya rasa sepakbola itu jadi prioritas kedua dalam menentukan sebuah pilihan,” lanjutnya.

Menteri Olahraga Italia Ragu dengan Masa Depan Serie A Musim Ini

Saat ini Serie A Italia belum memiliki jadwal pasti untuk melanjutkan kompetisi musim ini. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Di satu sisi kompetisi tersebut diyakini akan bergulir lagi. Namun di sisi lain ada pesimisme.

Menteri Olahraga Italia, Vincenzo Spadafora, ragu dengan masa depan kompetisi tersebut di musim ini. Spadafora memprediksi nasib Serie A tidak akan berbeda dengan Ligue 1 Prancis yang sudah dihentikan.

Ia mengatakan saat ini masih berlangsung negosiasi dengan berbagai pihak terkait kelanjutan kompetisi. Dari pihak Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), diajukan protokol medis sebagai jaminan untuk melanjutkan kompetisi. Namun ternyata protokol tersebut belum cukup.

“Negosiasi sedang berlangsung antara komite ilmuwan dan FIGC, yang menyajikan protokol medis yang dipertimbangkan masih belum cukup,” beber Spadafora.

Lebih lanjut ia mengatakan saat ini sejumlah klub Serie A sudah mulai diperbolehkan untuk menggelar latihan, meski masih terbatas. Namun demikian Spadafora menilai hal tersebut belum bisa menjadi indikasi bahwa Serie A akan berlanjut lagi. Ia justru melihat situasi yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk melanjutkan kompetisi.

“Bagaimanapun, saya selalu blang bahwa kembali berlatih tak berarti memulai musim lagi. Saya melihat melanjutkan Serie A semakin tidak mungkin,” sambungnya.

Ia mengakui adanya hasrat untuk kembali bermain dalam diri para pemain. Menurutnya bila ia menjadi orang penting di klub maka fokusnya tidak akan lagi dicurahkan untuk kompetisi musim ini tetapi memikirkan musim depan.

“Para pemain ingin kembali berlatih dengan benar, tapi kalau saya presiden sebuah klub, saya akan lebih berpikir bagaimana untuk memulai musim depan dengan lebih aman.”

Spadafora yakin bahwa Liga Prancis bukan kompetisi terakhir yang memutuskan untuk menghentikan kompetisi. Bukan tidak mungkin Serie A akan mengambil sikap yang sama.

“Prancis tak akan menjadi liga terakhir yang diputuskan berhenti di sini dan ini bisa mendorong Italia melakukan hal yang sama,” sambungnya.

Melanjutkan atau tidak melanjutkan kompetisi tentu tidak bisa diputuskan dengan mudah. Ada banyak konsekuensi dari masing-masing keputusan. Bila tidak dilanjutkan maka akan timbul kerumitan terkait penentuan gelar juara, promosi dan degradasi. Selain itu klub-klub sepak bola akan semakin merugi.

Di sisi lain bila kompetisi dilanjutkan maka para pemain bisa saja akan merasa was-was dengan kemungkinan munculnya wabah tersebut. Begitu juga di kalangan para penonton. Namun di atas segalanya, keselamatan dan kesehatan para pemain dan penonton adalah prioritas utama. Bagaimana menurut anda?

 

Pemain Lazio: Latihan Individu di Klub Mestinya Diizinkan

Saat ini pemerintah Italia sudah mulai memberikan kelonggaran bagi klub sepak bola untuk menggelar latihan. Namun demikian pemberian kelonggaran itu disertai sejumlah pengecualian.

Pemain Lazio, Marco Parolo mempertanyakan keputusan tersebut. Menurut pemain yang berposisi sebagai gelandang itu, mempertanyakan perbedaan kebijakan antara sepak bola dan cabang olahraga individu lainnya seperti renang dan tenis. Bila atlet renang dan tenis sudah bisa berlatih lagi sejak Senin, 4 Mei 2020, para pemain sepak bola baru bisa diizinkan berlatih dua minggu kemudian.

Parolo berdalih klub juga memiliki banyak tempat latihan sehingga tidak harus berkumpul di satu lapangan. Hal ini bisa menghindari konsentrasi orang pada tempat tertentu.

“Lazio punya 5-6 lapangan untuk berlatih dan kami bisa menjaga jarak satu sama lain,” bebernya.

Lebih lanjut Parolo mengatakan seharusnya para pemain juga bisa diizinkan untuk menggelar latihan individu di fasilitas klub pada waktu yang sama dengan cabang olahraga individu.

“Protokol yang sedang dicek itu menyangkut keseluruhan tim, tapi harusnya latihan individu di fasilitas klub sendiri tetap diizinkan. Dekrit baru ini justru seperti menghukum kami. Mungkin ada yang tak mau musim ini dilanjutkan,” lanjutnya.

Ia menilai hal ini menimbulkan ketidakadilan. Bila masyarakat diizinkan pergi ke taman, mengapa mereka masih dibatasi untuk bisa berolahraga di tempat latihan klub.

“Orang bisa kembali pergi ke taman tapi saya tak bisa jogging ke Formello (markas latihan Lazio)? Seluruh olahragawan mestinya diperlakukan sama,” sambungnya.

Ia mengakui masing-masing cabang olahraga memiliki target tertentu. Namun pemain berusia 35 tahun itu menegaskan bahwa sepak bola juga adalah cabang olahraga penting.

“Saya selalu mendukung atlet Italia yang bertanding di turnamen kelas dunia dan saya setuju mereka harus kembali berlatih, tapi pesepakbola juga harusnya begitu. Setelahnya, bukan kami yang memutuskan kelanjutan musim ini,” sambungnya.

Kubu Lazio sebagaimana disampaikan oleh sang direktur olahraga, Igli Tare, ingin agar kompetisi Serie A bisa berlanjut dan musim ini bisa diselesaikan.

“Yang jelas, kami ingin menyelesaikan musim ini demi kebaikan sistem sepakbola Italia,” beber Igli Tare.

Lebih lanjut Tare berkaca pada sepak bola Jerman yang mana federasi sepak bola dan klub-klub besar masih berada pada sikap yang sama untuk melanjutkan kompetisi.

“Di Jerman, presiden federasi sepakbola mereka dan para pemimpin klub-klub besar telah mengambil sikap untuk melanjutkan kompetisi, yang melibatkan kontinuitas sistem sepakbola negara tersebut,” sambungnya.

Lampu Hijau, Klub Serie A Boleh Mulai Berlatih

Saat ini semua kompetisi sepak bola di benua Eropa dihentikan akibat wabah Corona atau Covid-19 yang menjalar di hampir semua negara di dunia. Belum ada informasi pasti kapan wabah itu akan berakhir.

Di tengah ketidakpastian itu, ada kabar gembira bagi para penggemar Serie A Italia. Klub-klub Serie A dikabarkan akan kembali berlatih dalam waktu dekat. Namun demikian latihan tersebut akan dijalankan dengan tetap memperhatikan protokol yang berlaku.

Sebagaimana dikabarkan Menteri Olahraga Italia Vincenzo Spadafora tim sudah diperkenankan untuk berlatih pada 18 Mei mendatang. Namun demikian situasi bisa berubah sesuai kondisi yang ada.

“Kita hanya akan melanjutkan latihan untuk olahraga tim mulai 18 Mei, tapi hanya kalau kondisi-kondisi keamanan bisa dikonfirmasi dalam beberapa pekan ke depan,” beber Spadofora.

Lebih lanjut Spadofora mengatakan belum ada informasi pasti kapan Serie A akan bergulir lagi. Saa ini fokus lebih pada keselamatan dan keamanan para pemain.

“Saya tak ingin merusak atau menghambat kelanjutan sepakbola, tapi saya harus bilang kita masih perlu melihat lagi karena ada kebutuhan untuk bersikap rigid dan perlunya protokol-protokol tertentu terkait keamanan para atlet,” sambungnya.

Sebelumnya Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menyerahkan protokol terkait panduan-panduan yang akan dijalani sebelum dan selama aktivitas sepak bola. Namun Spadofora mengatakan protokol yang diajukan itu belum sepenuhnya diterima dan masih ada penyesuaian. Protokol ini penting ditinjau dan bila sudah mencapai kata sepakat maka akan diputuskan apakah Serie A bisa dilanjutkan lagi atau tidak.

“FIGC kemarin menyerahkan sebuah protokol dan komite sains merasa itu tidak cukup sehingga perlu penyesuaian. Hanya dari momen itulah, ketika protokolnya disepakati, kita bisa memutuskan apakah akan melanjutkan sepakbola atau tidak,” tegasnya.

Sebelumnya Presiden FIGC, Gabriele Gravina, mengatakan pihaknya berusaha mencari segara cara untuk mendapatkan solusi terbaik. Menurutnya menyelamatkan musim kompetisi kali ini dan musim berikutnya adalah bagian dari prioritas.

“Dunia sepakbola bekerja tanpa henti dan penuh tanggung jawab demi menemukan solusi yang konkrit dan berkelanjutan untuk krisis akibat COVID-19. Langkah ini diperlukan juga untuk melindungi musim 2020-2021,” beber Gabriele Gravina.

Lebih lanjut Gravina mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kerja pemerintah yang bertindak responsif terhadap situasi yang ada saat ini. Pihaknya selalu berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menghadapi situasi ini.

“Saya berterima kasih kepada Menteri Olahraga Spadafora atas perhatian yang diberikan kepada kami dalam pertemuan hari Rabu. Kami sudah menjelaskannya secara mendalam,” tambahnya.

Serie A Bakal Dijadwal Ulang

Kelanjutan kompetisi Serie A musim ini masih menjadi tanda tanya. Berkembang wacana terkait penjadwalan ulang Serie A. semula Serie A dijadwalkan berakhir pada 30 Juni namun Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) melakukan penyesuaian dengan memundurkan ke 2 Agustus 2020 nanti.

Sebagaimana dikatakan Presiden FIGC, Gabriele Gravina, pihaknya berusaha mencari segara cara untuk mendapatkan solusi terbaik. Menurutnya menyelamatkan musim kompetisi kali ini dan musim berikutnya adalah bagian dari prioritas.

“Dunia sepakbola bekerja tanpa henti dan penuh tanggung jawab demi menemukan solusi yang konkrit dan berkelanjutan untuk krisis akibat COVID-19. Langkah ini diperlukan juga untuk melindungi musim 2020-2021,” beber Gabriele Gravina.

Lebih lanjut Gravina mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kerja pemerintah yang bertindak responsif terhadap situasi yang ada saat ini. Pihaknya selalu berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menghadapi situasi ini.

“Saya berterima kasih kepada Menteri Olahraga Spadafora atas perhatian yang diberikan kepada kami dalam pertemuan hari Rabu. Kami sudah menjelaskannya secara mendalam,” tambahnya.

Saat ini berkembang berbagai spekulasi dan saran terkait nasib Serie A Italia musim ini. Ada yang meminta kompetisi tersebut disudahi saja. Hal ini datang dari Zdenek Zeman, salah satu pelatih legendaris.

Menurutnya situasi saat ini tak memungkinkan untuk menggulirkan kembali kompetisi sepak bola di Italia. Ia pun sangat pesimis kompetisi tersebut bisa dilanjutkan lagi.

“Sekarang ini, saya tak merasa kondisi-kondisinya tepat untuk memainkan sepakbola. Saya tetap merasa sangat pesimistis,” beber Zeman.

Sosok yang pernah menangani sejumlah klub top Serie A seperti AS Roma, Napoli, Lazio dan Parma itu berpendapat pandemi Corona atau Covid-19 telah merusak semua sendi kehidupan. Tak hanya itu pandemi ini pun belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir. Saat ini kesehatan masyarakat adalah prioritas utama.

“Virusnya sudah memberikan kerusakan besar dan akan terus begitu. Kesehatan orang-orang adalah yang terpenting dan uang adalah hal berikutnya,” sambungnya.

Melihat situasi tersebut, ia menganjurkan agar kompetisi tersebut dihetinkan saja. “Buat saya, kompetisi tak semestinya ditetapkan,” tegasnya.

Bila sampai Serie A benar-benar dihentikan, siapa yang akan dinobatkan sebagai peraih scudetto? Tidak hanya itu, bagaimana dengan perhitungan promosi dan degradasi? Tentu hal-hal ini menjadi perhatian dari pihak terkait sebelum mengambil suatu kebijakan. Selain itu segala keputusan yang diambil sudah diperhitungkan matang-matang dampaknya, termasuk nasib kompetisi di musim berikutnya.

FIGC: Prioritas Utama Tuntaskan Musim Serie A

Saat ini hampir semua kompetisi sepak bola terhenti. Tidak kecuali Serie A Italia. Banyak spekulasi berhembus. Tidak hanya terkait kapan kompetisi itu kembali bergulir. Termasuk juga soal kemungkinan bila kompetisi tak terselesaikan, siapa yang pantas mendapat Scudetto.

Federasi Sepakbola Italia (FIGC) berharap musim ini tetap bisa diselesaikan. Sebagaimana dikatakan Presiden FIGC, Gabriele Garvina, saat ini ada sejumlah kemungkinan terkait waktu kembali bergulirnya Serie A.

“Prioritas utama adalah menuntaskan musim. Rencananya sih dimulai 20 Mei atau awal Juni, lalu berakhir Juli,” beber Garvina.

Lebih lanjut Garvina mengatakan tidak menutup kemungkinan Serie A akan kembali bergulir pada Agustus atau September mendatang. Prinsipnya, ia tak suka bila harus mengorbankan musim berikutnya akibat tak menentunya jadwal musim ini.

“Ada kemungkinan juga berakhir Agustus atau September. Saya ingin bilang bahwa saya tidak suka jika harus mengorbankan musim lainnya untuk menuntaskan musim ini,” lanjutnya.

Ia menegaskan agak susah untuk membatalkan musim ini. Menurutnya situasi ini sulit dan rumit, termasuk juga tak adil bila harus sampai membatalkan kompetisi.

“Saya rasa membatalkan musim ini agar rumit. Ini akan terasa tidak adil, yang akan berujung tuntutan hukum nantinya karena kondisi darurat.”

Demikian juga bila sampai kompetisi benar-benar terhenti dan siapa yang berhak mendapat gelar juara. Menurutnya sekalipun diberikan gelar Scudetto, Juventus, sebagai tim penghuni urutan pertama di tabel klasemen sementara, tidak akan sudi untuk menerimanya.

“Memang cuma Scudetto yang perlu dibereskan dan saya yakin Juventus pun tidak suka solusi itu,” tegasnya.

Lukaku Sayangkan Lambannya Serie A di Tengah Corona

Saat ini kompetisi Serie A Italia memang telah dihentikan akibat pandemi Corona atau Covid-19. Namun penghentian tersebut dinilai terlambat. Hal ini seperti menjadi kritikan sejumlah pemain Serie A. Salah satunya adalah pemain depan Inter Milan, Romelu Lukaku.

Lukaku yang merupakan mantan pemain Everton itu menyesali sikap lambat Serie A dalam menghentikan kompetisi Serie A. Menurutnya kompetisi itu baru dihentikan setelah ada pemain positif corona.

“Kesehatan yang utama. Lalu kenapa sih harus terus dimainkan ketika nyawa orang jadi taruhannya?,” beber Lukaku.

Lebih lanjut pemain yang pernah berseragam Manchester United itu mengatakan ia tak habis pikir kompetisi baru benar-benar dihentikan setelah ada pemain yang dinyatakan positif. Menurutnya keputusan tersebut sebagai hal gila.

“Kenapa harus menunggu ada pemain yang dinyatakan positif baru sepakbola disetop? Itu gila,” lanjutnya.

Menurutnya dalam situasi seperti ini kesehatan dan keselamatan adalah nomor satu. Sekalipun dirinya adalah seorang pemain profesional, prioritas utama adalah kesehatan, bukan hal lain, termasuk pula sepak bola.

“Saya memang merindukan sepakbola, tapi kesehatan orang-orang yang terpenting saat ini. Sisanya bukan prioritas.”

Kekesalan juga diungkapkan pemain Serie A lainnya yakni Diego Godin.Pemain asal Uruguay itu mengaku kesal dengan lambannya pemerintah menangani wabah tersebut. Selain karena kelalaian masyarakat yang meremehkan wabah tersebut, ia juga menyesali lambannya pemerintah menangani wabah tersebut.

“Itu bukan masalah besar pada awalnya. Semua orang mengira itu masalah di Cina dan tidak akan menyebar ke negara lain,” beber Godin.

Lebih lanjut mantan bek Atletico Madrid itu mengatakan langkah-langkah yang ditempuh pemerintah Italia sangat lambat. Ia menyayangkan hal tersebut.

“Langkah-langkah yang diberlakukan sangat, sangat lambat. Kami disuruh mengambil tindakan pencegahan, tetapi di tingkat pemerintah tidak ada tindakan drastis yang diambil, yang akan mencegah apa yang mungkin terjadi,” sambungnya.

Saat ini para pemain menjalani aktivitas di rumah. Tidak sedikit yang kembali ke negara asalnya. Namun demikian Lukaku belum bisa kembali ke Belgia. Ia lebih memilih menetap di tempat tinggalnya di Italia.

Saat ini Italia menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita terbanyak. Tidak hanya angka penderita yang tinggi, jumlah korban jiwa pun tidak sedikit. Hal ini membuat masalah corona di Italia mendapat perhatian serius, tidak hanya dari pemerintah setempat tetapi juga dari negara lain. Sampai-sampai paramedis dari China ikut membantu mengatasi masalah corona di negara Pizza itu.

Presiden Juventus Sebut Atalanta Tak Pantas Tampil di Pentas Eropa

Sepak terjang Atalanta dalam beberapa musim terakhir cukup menyita perhatian. Klub tersebut tidak hanya mampu berprestasi di level domestik tetapi juga di pentas Eropa. Musim ini Atalanta bahkan mampu lolos hingga ke babak 16 besar Liga Champions Eropa dan berpeluang untuk terus melaju.

Ternyata sepak terjang Atalanta juga mengundang komentar, termasuk dari presiden Juventus, Andrea Agnelli.

“Diperlukan pembahasan tentang kesempatan untuk memiliki akses langsung ke kompetisi-kompetisi seperti ini karna Anda adalah bagian dari sebuah liga yang hebat,” beber Agnelli.

Lebih lanjut Agnelli mengatakan pencapaian Atalanta cukup mengejutkan. Klub tersebut dinilai tak memiliki sejarah di pentas Eropa.

“Saya punya respek besar untuk Atalanta, tapi mereka masuk Liga Champions karena satu musim yang bagus dan tanpa sejarah apapun di kompetisi internasional. Apakah itu adil?,” sambungnya.

Lebih lanjut ia membandingkan situasi yang dialami AS Roma.  “AS Roma misalnya, yang dalam beberapa tahun terakhir telah berkontribusi untuk menjaga peringkat UEFA Italia malah gagal karena satu musim yang buruk. Dengan seluruh kekuatan finansial dengan seluruh keterlibatan seluruh implikasi keuangan. Kita harus melindungi investasi.”

Agnelli menegaskan perlu dijaga keseimbangan antara kontribusi setiap tim dan penampilan mereka.

Juventus berhasil memetik kemenangan di laga tunda pekan ke-26 Serie A Italia. Pertandingan ini digelar di Stadion Allianz Arena yang menjadi kandang sendiri saat menjamu Inter Milan pada Minggu, 8 Maret 2020 waktu setempat atau Senin dini hari WIB.

Di laga ini Juventus menang dua gol tanpa balas. Sepasang gol Nyonya Tua dicetak oleh Aaron Ramsey di menit ke-55 dan Paolo Dybala di menit ke-67.

Tambahan tiga poin sangat penting bagi Nyonya Tua. Tim tersebut kini mengemas total 63 poin dari 26 pertandingan dan sukses menggusur Lazio di puncak klasemen sementara. Juventus kini unggul satu angka dari Bianconeri.

Sementara itu kegagalan ini membuat Inter Milan tak beranjak dari urutan ketiga. Internazionale Milan mengemas total 54 poin dari 26 pertandingan yang sudah dijalani.

Bermain di kandang sendiri membuat Juventus sangat percaya diri. Tuan rumah pun mampu menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola lebih dari 60 persen. Situasi ini berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh tuan rumah untuk mencetak sepasang gol untuk memastikan kemenangan.

Usai pertandingan pelatih Inter Milan, Antonio Conte mengakui kualitas Juventus. Mantan pelatih Chelsea itu mengatakan kualitas Juventus berada di atas tim-tim lain di Italia.

“Kami berbicara tentang tim Juventus yang semakin kuat setiap tahun selama delapan musim, menambah pemain-pemain berkualitas dengan banyak pengalaman dan trofi,” beber Conte.

 

 

 

Napoli ke Markas Cagliari di Pekan ke-24 Serie A

Napoli akan menghadapi Cagliari di pekan ke-24 Serie A Italia pada Senin, 17 Februari 2020 dini hari WIB. Laga ini akan digelar di markas Cagliari di Stadion Sardegna Arena, Cagliari.

Di laga ini kedua tim sama-sama mengincar kemenangan. Napoli tidak ingin kehilangan kesempatan untuk terus mengejar tim-tim di atasnya. Apalagi musim ini performa Napoli kurang konsisten, tak seperti musim lalu. Saat ini Napoli berada di papan bawah.

Sementara itu Cagliari tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meraih poin di kandang sendiri. Namun demikian Napoli tetaplah tim yang kuat karena memiliki sederet amunisi mumpuni.

Ditambah lagi di laga ini Cagliari tak bisa memainkan salah satu pemain andalannya yakni Radja Nainggolan yang mengalami cedera di laga sebelumnya kontra Genoa. Situasi ini sempat membuat kubu Cagliari kecewa berat sebagaimana diungkapkan sang pelatih, Rolando Maran.

“Kami marah karena kehilangan dia [Nainggolan] untuk pelanggaran yang tidak masuk akal. Kami kehilangan pemain kunci di laga penting dengan cara yang tidak adil,” beber Rolando Maran.

Untuk itu timnya harus bekerja keras untuk menambal posisi yang ditinggalkan Nainggolan. Apalagi kehadiran mantan pemain AS Roma itu membuat harapan para pendukungnya semakin meningkat.

“Kami akan bekerja memperbaiki kemarahan ini mentransfernya menjadi kebanggaan untuk para fans. Ini momen sulit untuk diketahui bagaimana peran moral kepribadian akan berperan,” sambungnya.

5 Pertemuan Terakhir Kedua Tim:
26.09.19 SA Napoli 0 – 1 Cagliari
06.05.19 SA Napoli 2 – 1 Cagliari
17.12.18 SA Cagliari 0 – 1 Napoli
27.02.18 SA Cagliari 0 – 5 Napoli
01.10.17 SA Napoli 3 – 0 Cagliari

5 Pertandingan Terakhir Cagliari:
09.02.20 SA Genoa 1 – 0 Cagliari
02.02.20 SA Cagliari 2 – 2 Parma
26.01.20 SA Inter 1 – 1 Cagliari
19.01.20 SA Brescia 2 – 2 Cagliari
15.01.20 COP Inter 4 – 1 Cagliari

5 Pertandingan Terakhir Napoli:
13.02.20 COP Inter 0 – 1 Napoli
09.02.20 SA Napoli 2 – 3 Lecce
04.02.20 SA Sampdoria 2 – 4 Napoli
27.01.20 SA Napoli 2 – 1 Juventus
22.01.20 COP Napoli 1 – 0 Lazio

Perkiraan starting line up Cagliari versus Napoli:

Cagliari (4-3-2-1): Alessio Cragno; Federico Mattielo, Fabio Pisacane, Ragnar Klavan, Luca Pellegrini; Nahitan Nandez, Luca Cigarini, Artur Ionita; Gaston Pereiro, Joao Pedro; Giovanni Simeone.

Pelatih: Rolando Maran.

Napoli (4-3-3): David Ospina; Giovanni Di Lorenzo, Kostas Manolas, Kalidou Koulibaly, Mario Rui; Allan, Diego Demme, Fabian Ruiz, Jose Callejon, Arkadusz Milik, Lorenz Insigne.

Pelatih: Gennaro Gattuso.